Author Archive for Slam

Foe Tak Meramalkan Kematiannya

Anak-anak, kalau pun harus mati di lapangan, kita harus memenangkan pertandingan semifinal ini,” ujar Marc-Vivien Foe kepada rekan-rekannya di pertengahan babak pertama.

Tidak ada yang bersuara ketika Marco, begitu rekan-rekannya di timnas Kamerun memanggil Foe, mengutarakan pernyataan singkatnya. Rigobert Song, rekan dekat Foe dan kapten tim, juga tidak menimpali. Padahal, Song biasanya menyergah atau menyambung apa pun pernyataan yang dikemukakan Foe.

Foe tidak sedang meramalkan kematiannya. Ia hanya ingin membangkitkan semangat rekan-rekannya untuk menambah gol, atau mempertahankan keunggulan 1-0 atas Kolombia.

Di ruangan lain, Winfried Schafer pelatih Kamerun asal Jerman sedang menyusun strategi baru. Salah satunya pergantian pemain setelah babak kedua berlangsung 20 menit.

Pemain yang masuk daftar akan diganti adalah Marc-Vivien Foe. Sebagai pelatih berpengalaman Schaffer tahu betul betapa 10 menit sebelum pertandingan berakhir merupakan saat paling krusial.

Tidak satu pun yang mengira pernyataan Foe di ruang ganti itu adalah yang terakhir. Song, Ndieffi, dan semua pemain Kamerun, hampir tidak bisa mempercayai ketika Foe dinyatakan meninggal setelah jatuh pingsan di tengah lapangan.

”Dia berbicara tentang kematian dan kemenangan. Ternyata dia mengalami kematian, tanpa sempat menyaksikan akhir pertandingan yang dimenangkannya,” kata Song seraya mengusap air matanya.

Song mengatakan sampai babak pertama usai, tidak terlihat tanda-tanda Marco sakit. Wajahnya, menurut Song, biasa-biasa saja dan tidak memperlihatkan sesuatu mencurigakan.

Dibanding pemain lain, Song yang paling merasakan kehilangan. Ia mengenal Foe sejak masih kanak-kanak. Foe berasal dari kawasan permukiman yang tak jauh dari Younde, namun lebih memilih Canon Younde sebagai klub tempat meniti kariern.

”Di klub inilah saya mengenal, belajar, memulai karier sebagai pemain sepakbola bersama-sama,” kenang Song. ”Kami juga tiba di Eropa bersama-sama, meski bermain di klub berbeda.”
Schafer punya alasan lain untuk bersedih.

Kepada The Guardian, surat kabar Inggris, ia mengatakan; ”Beberapa menit sebelum terjatuh, saya telah meminta Foe untuk keluar. Kami juga mempersiapkan salah satu pemain sebagai penggantinya.”

Sesuai rencana, Schafer memang akan menarik Foe ketika pertandingan memasuki 15 atau 10 menit terakhir. Schafer juga memberi sinyal kepada Foe untuk bersiap keluar. ”Saya melihat gerakan Marco mulai melambat,” cerita Schafer.

”Tapi ketika saya mengirim pesan kepada Marco untuk keluar, dia mengatakan baik-baik saja, dan ingin tetap di lapangan untuk meyakinkan Kamerun menuju final.”

Schafer tidak akan pernah melupakan peristiwa itu. Ia menyesal tidak menggunakan otoritasnya untuk memaksa Foe keluar lapangan. Ketika Foe jatuh dengan tak berkedip, Marie-Louis Foe istri Marc-Vivien Foe berada di antara penonton. Ia berbaur bersama istri pemain Kamerun lain, dan penonton asal tanah airnya yang berada di Prancis.

”Ketika dia jatuh pingsan, saya tidak berpikir dia akan meninggal,” kata Marie seraya berupaya menahan tangis. ”Saya pikir ia akan baik-baik saja setelah mendapat pertolongan.”

Marco, menurut Marie, menderita disentri sejak tiga hari sebelum semifinal. Ia juga kelelahan setelah berjuang habis-habisan membela Lyon.
”Dia seharusnya tidak bermain sama sekali,” kata Marie. ”Saya berusaha menasihatinya. Tapi dia begitu ingin bermain untuk negaranya di Lyon, kota yang mengadopsinya. Marco memiliki banyak fans di kota ini.”

Marie menyalahkan dokter yang tidak berusaha menghentikan keinginan ayah idaman tiga anak ini untuk bermain dengan kostum Kamerun. Selain mengidap disentri, menurut Marie, Marco juga memiliki masalah dengan lambungnya. Sejak sepekan sebelum tragedi terjadi, Marco mengeluh ada yang tak beres dengan lambung. Terutama pada saaat berada di lapangan.

”Dia tahu kondisinya tidak cukup baik untuk bermain penuh, tapi dia memaksakan diri,” kata Marie.
Di Kamerun, tidak ada perayaan kemenangan atas sukses Kamerun mencapai final Piala Konfederasi. Sampai Ahad (29/6), masyarakat Kamerun masih larut dalam pembicaraan mengenai kematian Foe.
Fans Indomitable Lions, julukan resmi timnas Kamerun, mendatangi rumah keluarga Foe di Younde untuk menyampaikan penghormatan terakhir.

Stadion Ahmadou Ahidjo, tempat kali pertam Foe bermain bola, dipenuhi banyak orang sampai Ahad kemarin. Mereka terdiri dari pejabat pemerintah dan penggemar sepakbola, serta orang-orang yang mengenal Foe.

Gambar timnas Kamerun saat merebut Piala Afrika terpampang di banyak pintu masyarakat Kamerun. Presiden Kamerun Paul Biya berada di sekelompok ibu yang sedang menangisi kepergian orang tercinta mereka.

Kini, rakyat Kamerun menunggu kedatangan jenazah Foe. Rencananya, Foe akan kembali ke Kamerun bersama rekan-rekannya sehari setelah final Piala Konfederasi. ”Foe akan kembali ke tanah air bersama kami. Kami juga akan mengantarnya sampai ke peristirahatan terakhir,” kata Rigobert Song.


FORZA MILAN

Buat penggemar Juventus, Gak usah sedih, Toh Champions Cup tetap menuju Italy

FORZA AZZURI

Real Sociedad, Penguasa Liga Primera 2002-2003

Banyak orang yang mengenal sepak bola Spanyol lewat Real Madrid atau Barcelona. Memang benar dua klub tersebut yang telah mengharumkan nama Spanyol di kancah sepakbola Eropa. Dua klub tersebut telah malang melintang di kompetisi lokal Liga Primera dan menjadi juara berulang kali. Namun di musim kompetisi beberapa tahun ini, kedua jagoan Spanyol tersebut harus merelakan kedudukannya sebagai jawara kepada klub-klub lain yang memang tidak sebesar Real Madrid atau Barcelona.
Kalau Real Madrid bangga dengan stadion Bernabeu yang memilik kapasitas terbesar di Eropa, maka Barcelona boleh bangga dengan kostumnya yang tidak pernah diembel-embeli dengan iklan. Kedua tim tersebut memang seakan tidak akan pernah kehabisan dana yang didapat dari penjualan tiket pertandingan kepada fans mereka. Bila klub-klub lain berusaha mendapatkan dana dengan menjalin kontrak dengan perusahaan-perusahaan besar untuk menambah dana kasnya, Barcelona dan Real Madrid cukup dengan menjual tiket pertandingannya yang rata-rata akan dibeli oleh sekitar 90 ribu penonton fanatiknya. Semua orang akan mahfum, jika mereka mampu membeli pemain-pemain besar untuk memperkuat skuadnya demi memuaskan keinginan fans untuk menjuarai La Liga.
Untuk dua musim kompetisi ini Real Madrid memang yang terdepan dalam urusan pembelian pemain bintang. Mulai dari Luis Figo, Zinedine Zidane, dan terakhir Ronaldo diboyong dari klub-klub besar Eropa pula. Padahal mereka tidak pernah kekurangan pemain-pemain bintang, sebut saja Raul Gonzalez, Roberto Carlos atau Fernando Hierro, mereka adalah pemain-pemain yang selalu tampil menawan di setiap pertandingan. Bahkan ketika Luis Figo dan Ronaldo dibeli seakan terjadi kegemparan di kancah sepakbola Eropa. Bagaimana tidak, Luis Figo adalah seorang pemain milik Barcelona, klub Catalan yang menjadi musuh bebuyutan yang sedang bersinar digaetnya dengan nilai transfer yang memecahkan rekor. Begitu juga Ronaldo yang notabene adalah lulusan Barcelona pula, sepertinya Real Madrid tidak pernah kekurangan pemain. Demikian pula Barcelona, untuk urusan pembelian pemain ternyata mereka hanya kalah oleh Real Madrid. Bahkan musim kompetisi ini mereka mengejutkan banyak orang dengan membuang pemain sekaliber Rivaldo, beruntunglah AC Milan mendapatkannya dengan gratis.
Tapi sayang keunggulan banyaknya pemain-pemain bintang tidak menjadikan mereka unggul di kompetisi lokal. Beberapa kali mereka ditaklukkan oleh klub-klub papan tengah bahkan juga oleh klub papan bawah. Yang menyedihkan sekarang adalah Barcelona, mereka seperti tidak punya pemain yang bisa meningkatkan gairah untuk memenangkan setiap pertandingan.
Musim kompetisi ini Real Sociedad diperkirakan akan menguasai Liga Primera Spanyol. Klub asuhan Raynald Denoueix ini telah membuktikan permainan menyerang mereka yang stabil. Kunci kesuksesan pelatih Perancis ini adalah mengoptimalkan peran pemain dalam setiap pertandingan. Sebut saja Sander Westerveld yang selalu bermain cantik dalam menjaga gawang, dibantu oleh Jose Pikabea dan Bjorn Tore Kvarme. Di bagian tengah mereka memiliki Xabi Alonso, Korkut Tayfun, Valery Karpijn, Dimitry Khoklov dan Nihat Kahveci yang berduet dengan Darko Kovacevic menjadi top skor klub. Bahkan duet Kovacevic-Kahveci lebih produktif daripada Ronaldo-Raul Gonzalez. Kekompakan pemain selalu dipertunjukkan di setiap pertandingan, menjadikan mereka selalu tampil tanpa tekanan.
Saat ini Real Sociedad menjadi favorit untuk menjuarai Liga Primera, padahal sebelumnya mereka adalah klub kecil yang selalu kalah bersaing dengan Real Madrid, Barcelona, Deportivo La Coruna, Valencia atau Atletico Madrid. Real Sociedad belum pernah kalah di kandang, bahkan Real Madrid dibungkam dengan skor 4-2, dan berhasil membalas kekalahan 2-1 dari Barcelona. Sepakbola bukan permainan pemain bintang. Sepakbola lebih mengutamakan kekompakan dan penerapan strategi permainan yang lugas. Dan di musim kompetisi ini Real Sociedad telah melakukannya dengan baik. Jadi kalau sekarang mereka diprediksikan akan menjadi juara hal tersebut merupakan suatu kenyataan.
Real Sociedad memang tim yang tidak sempurna, namun ketidak-sempurnaan tersebut berhasil mereka tutupi dengan kerja keras dan semangat yang tinggi. Buat Anda penggemar Liga Spanyol, Lihatlah kenyataan ini. Dan jangan tutup mata dan telinga Anda menyaksikan kehebatan Real Sociedad.

Centrocampo Liga Italia
Maradona Jagokan Milan Bakal Juara

Legenda hidup sepakbola dunia, Diego Armando Maradona buka suara. Katanya, ia menjagokan Milan bakal meraih juara Liga Champions musim ini.
Mantan pahlawan Napoli dan Argentina itu minggu ini dikabarkan tengah berada di Italia untuk melakukan liburan sambil bermain golf di dekat Fiuggi.

Di sela-sela liburan itu, Maradona melakukan makan malam bersama mantan pemain Napoli lainnya, Giuseppe Incocciati dan kemudian berbicara kepada pers.

“Milan adalah favorit juara, mereka akan mengalahkan Juventus di Old Trafford,” ujarnya seperti dikutip Channel4.com.

Kalimat itu diucapkannya menyusul pertanyaan wartawan setempat mengenai prediksinya pada final Liga Champions yang akan dilangsungkan 28 Mei.

Prediksi Maradona itu justru dibantah Dino Zoff. Legenda sepakbola Italia itu mengatakan bahwa terlalu sulit untuk memprediksikan siapa yang bakal juara.

“Milan dan Juve punya kekuatan yang sama dan sama-sama pantas meraih juara. Tidak satupun dari keduanya yang bisa disebut sebagai favorit atau underdog,” tegas mantan pelatih timnas Italia itu.

Ini yang ngomong Maradona loh… tapi ini pula harapan Gue

Sekedar mengingatkan, bahwa di awal kompetisi Liga Champions, di Blogsport ini Gue pernah posting tentang kebangkitan Klub-klub jawara Italia di Liga Champion, yaitu Juventus dan AC Milan. Prediksi itu bukan semata-mata karena Gue menyukai Liga Italia, tapi lebih dari itu Liga Italia di musim kompetisi ini memang sedang bangkit.
Ditandai dengan hengkangnya pemain-pemain bintang yang gak betah, di antaranya adalah Zidane dan Ronaldo. Pemain yang terakhir ini memang gak berguna sama sekali untuk klub Italia yang pernah diperkuatnya. Hengkangnya pemain-pemain yang gak betah itu justru menciptakan kondisi team yang semakin mandiri dan tidak hanya bertumpu pada pemain asing sebagai kekuatan team. Walaupun kontribusi pemain asing tetap dibutuhkan. Tetapi lihatlah statistik top scorer Liga Italia yang justru didominasi oleh pemain lokal. Christian Vieri dengan 24 gol tidak terkejar lagi oleh Del Piero dan Inzaghi yang hanya mengoleksi 16 gol. Sedangkan Pemain asing yang berhasil merajai top scorer hanya duet Parma, Adrian Mutu (16) dan Adriano (14).
Ditambah kapasitas pelatih bertangan dingin seperti Lippi, Ancelotti, Capello dan Cuper (keempat pelatih ini yang menangani empat klub yang memang pernah merajai Liga Champion), menjadikan permainan team lebih terorganisir dan itu dibuktikan dalam semifinal Liga Champions yang didominasi oleh Lippi, Ancelotti dan Cuper. Semua orang tahu Lippi dan Capello dapat dijadikan jaminan untuk menjadikan team yang ditanganinya memiliki determinasi tinggi dan bermental juara.
Jadi kalo sekarang Italian Final jadi kenyataan… ya sudahlah buat yang anti Liga Italia selamat menangis deh… Dan buat pengagum Ronaldo atau Zidane… Kaciannn deh lo…..

Milan & Juve is Back

Milan & Juventus, bakalan jadi “Dream Team” lagi. Kemenangan telak atas lawan-lawannya di Liga Champions menuntaskan penantian lama mereka untuk kembali merajalela di Liga Eropa.
Milan menaklukkan Juara Spanyol Deportivo La Coruna di kandang lawan Riazor Stadium dengan skor yang membuat supporter “The Bats” menangis, 4-0. Betul.. 4 Gol tanpa balas.
Bahkan penyerang Milan Filippo “Super Pippo” Inzaghi telah mengemas 9 gol dalam 6 pertandingan yang dijalaninya di musim ini.
Sementara itu Juventus juga menuntaskan perlawanan tim Eropa Timur, Dinamo Kiev juga dengan skor yang telak 5 gol tanpa balas, alias 5-0. Peran mantan tandem “Super Pippo”, Alessandro Del Piero dalam membangun kejayaan Juventus sangat besar. 2 assist dan 1 Gol membuktikan Alex adalah pemain yang patut diperhitungkan oleh setiap lawan.
Kembalinya duet Italia “Del Pippo” di Liga Eropa mengingatkan kita pada kejayaan tim mereka masing-masing pada era sebelumnya.

Liga Champions tanpa wakil Italia

Menyedihkan memang, Liga Champion yang berjalan selanjutnya tidak akan diikuti oleh wakil dari Italia. Setelah AS Roma kalah dari Liverpool 0-2 otomatis, wakil Italia yang terakhir di Liga Champion itu tersisih untuk pertandingan berikutnya, karena di tempat yang lain Barcelona juga meraih kemenangan atas Galatasaray.
Sebenarnya tersingkirnya AS Roma ini sudah mulai terlihat ketika AS Roma dipaksa bermain seri melawan klub yang boleh dibilang satu kelas di bawahnya yaitu Galatasaray. Bermain di kandang sendiri Roma hanya mampu bermain imbang. Disinilah peluang roma untuk lolos ke babak selanjutnya dalam Liga Champion hilang. Dan akhirnya semuanya terbukti ketika AS Roma juga harus tunduk oleh Liverpool dengan skor yang cukup telak 0-2.
Tahun depan mungkinkah AS Roma dapat memperbaiki kembali penampilannya di Liga Champion. Mungkin pertanyaan ini akan dapat terjawab di musim berikutnya. Karena paling tidak peluang AS Roma untuk mengikuti Liga Champion sangat besar. Ditambah lagi peluang untuk mempertahankan gelar Scudetto Serie-A.