Hallo
Author Archive for Zidatne
Yah…. Sepertinya kita harus mengambil hikmah dari semua yang terjadi di dunia olah raga kita. Mulai dari Jor-Jor-an nya RCTI menayangkan siaran langsung Liga Italy hinggak Piala Dunia. Kita mungkin bangga karena kita adalah salah satu negara yang mempunya tontonan sepak bola yang boleh dikategorikan “Wah”
Tapi ingat…. setiap detik yang kita tonton adalah berarti “Uang Melayang” Padahal kalau saja kita mau lebih sedikit berhemat, kenapa kita nggak mati matian aja membeli hak siaran sepak bola kita sendiri. Memang sih kita banyak belajar dari cara mereka memainkan sepak bola atau mengelola sepak bola. Tapi apa mesti sampe sebanyak itu yang harus kita keluarkan hanya untuk sebuah tontonan yang belum tentu ada manfaatnya bagi rakyat kita.
Kita harus membayar Del Piero segitu mahalnya. :>
Wah.. kok komentarnya nyasar kemana mana ya………???
Kayanya kita mesti perbaiki dulu deh ekonomi negara kita. Baru kita bisa mikirin prestasi.
Sekarang para pemain sepak bola kita aja kayanya mesti mikir gimana seandainya suatu waktu PSSI nggak sanggup lagi nyelenggarakan Liga Indonesia. Mereka mesti jual kemana keahlian mereka. Sementara untuk bermain di negara lain kita belum punya nilai jual.
Kecuali pemain sepak bola kita sekelas sama Ronaldo dan kawan-kawan. Mereka bermain di negara orang yang berarti mereka bakal membawa uang ke negara mereka bangsa 1 atau 2 juta Dollar setiap tahunnya.
Yah………….
Sekarang mending kita pikirin ekonomi dulu deh.
Indonesia,
Sepak Bola harus sesegera mungkin menjadi profesional. Selama ini kita kita udah capek membina pemain mulai dari usia dini. Yang harus ditanamkan adalah sifat profesionalisme. Naluri para pesepak bola kita adalah menjadi pegawai di sebuah instansi yang mereka bela. Ini tentunya akan memecah konsentrasi mereka dalam usaha menjadi pemain yang berkualitas “Mereka nggak fokus”
Selain itu dalam menciptakan bibit kita juga perlu memperhatikan tingkat IQ manusianya. Soalnya sepak bola bukan hanya sekedar bakat dan keterampilan mengolah bola. Dalam sebuah team yang terpenting adalah kerjasama yang baik. Dan ini membutuhkan kecerdasan yang sangat tinggi.
Kalo para pesepakbola pinter pinter tentunya para pelatih nggak perlu memberikan pengarahan berulang ulang hanya untuk satu atau dua strategi.
Pelatihnya juga harus inovatif juga dong……. Gimana sebuah team bisa berkembang kalo yang ngasih pengarahan nggak punya wawasan yang luas.
Dari komentar para komentator kita kayanya wawasan mereka pada Oke semua tuh. Coba desua ide mereka bisa dituangkan dalam sebuah team.
Selain itu………..,
Kayanya kita nggak perlu lagi deh tergantung sama para pejabat dalam memimpin sebuah Team. Nggak ada gunanya kita mendompleng kekuasaan hanya untuk melindungi sebuah Team.
Ini “Olah Raga” Bung……….!
Lebih baik mereka memberi support aja dari belakang.
Soalnya tabiat bangsa ini menjadi sungkan dan berbasa basi bila berhadapan dengan Orang berpengaruh.
Yang terpenting adalah “Orang-Orang yang Bener-Bener Peduli Dengan Sepak Bola Indonesia” Bukan yang mencari kekayaan dan nama besar.
Karena yang berhasil biasanya mereka disebut pahlawan
Betulkah Tidak………………….?
Sungguh sangat menyedihkan sekali dengan ulah para penonton sepak bola Indonesia. Baru aja pesta Piala Dunia usai dan meninggalkan sejarah baru bagi bangsa Asia. Kita malah mulai mencoreng muka kita sendiri.
Kalau boleh saran ya….?
Dalam setiap pertandingan sepak bola di Indonesia yg paling perlu diberikan pengarahan terlebih dahulu kayanya pihak keamanannya deh. Soalnya di Indonesia pihak keamanan cenderung suka ikutan nonton pertandingan daripada ngawasin penonton. (Hobby apa Tugas..?)
Selain itu ketegasan dari pihak penyelenggara untuk tidak memberikan kesempatan masuk bagi yang nggak memiliki tiket. Udah jadi kebiasaan kayanya bagi para penonton Indonesia mengharapkan tontonan gratis. Sebagai antisipasinya ya keamanan harus di tambah jumlahnya untuk di luar stadion.
Adalagi nih……, Karcis perlu diawasi dengan sangat ketat deh kayanya. kalau perlu dibuatkan pemeriksaan 2 tahap. Karcis yg sudah dibeli di tukarkan dengan karcis tanda masuk untuk menghindari kolusi antara pihak penjaga pintu dengan para penonton (saya pernah nonton liga Indonesia yg penontonnya jauh melebihi kapasitas stadion, padahal pertandingan belum di mulai. dan kebetulan beberapa teman saya masuk dengan cara berjabat tangan (berisi uang alakadarnya) dengan penjaga pintu. (padahal mereka sudah dibayar untuk itu)
Ini tentunya nggak lepas dari mental bangsa Indonesia sendiri.
Tapi……… yang paling penting adalah sikap tegas pihak keamanan dan jumlahnya. Soalnya kalo disuruh nonton di luar negri mungkin penonton inonesia nggak berani bikin kerusuhan.
Nah….. adalagi nggak ya yang bisa nambahin…?